•Selasa, 10 November 2009 •
Tinggalkan sebuah Komentar
bgitu tak terduga / namun begitu nyata / menanti dan menyergap / menelan bulat-bulat / yang tak terelakkan / terhenyak / menarik nafas / berhenti / mengenang /
kehilangan kami hanya sementara karena dia hidup dalam kenangan kami, selalu..

“If the people we love are stolen from us, the way to have them live on is to never stop loving them. Buildings burn, people die, but real love is forever.”
The Crow (1994)
“Every man dies – Not every man really lives.”
William Ross Wallace quotes (an American poet, 1819–1881)
“Now, now my good man, this is no time for making enemies.” – Voltaire on his deathbed in response to a priest asking that he renounce Satan
Voltaire quotes (French Philosopher and Writer. One of the greatest of all French authors, 1694-1778)
“You have a choice. Live or die. Every breath is a choice. Every minute is a choice. To be or not to be.”
Chuck Palahniuk quotes (American freelance Journalist, Satirist and Novelist. b.1961)
“Dying is not romantic, and death is not a game which will soon be over… Death is not anything… death is not… It’s the absence of presence, nothing more… the endless time of never coming back… a gap you can’t see, and when the wind blows through it, it makes not sound…”
Tom Stoppard quotes (British Playwright, b.1937)
source: http://thinkexist.com/quotations/death/
Ditulis dalam gambar
•Kamis, 21 Februari 2008 •
Tinggalkan sebuah Komentar
ada saat merindu menjadi pada umumnya, menjadi bagian dari massa, sebuah komponen dalam mekanika sistem, tik tok tik tok, derapnya teratur, berirama monoton, nyaman dalam rutinitasnya.
lulus sekolah, bekerja, mencari pasangan, berkeluarga, mendidik anak, dan menanti kematian.. saat satu “tingkatan” dicapai, pertanyaan pada umumnya menanti, kapan lulus?, sudah bekerja? kapan menikah? sudah “isi” blom?.. –kurang tepat mungkin tapi kurang lebih–.. semua terasa “pada umumnya”.. bergerak pada lingkaran yang menyempit, tak dipungkiri banyak yang memaknainya luar biasa.
rasanya kini luar biasa itu tidak terasa, kini menjadi pada umumnya bukan lah
aku yang aku bayangkan.. lalu apa yang kau bayangkan. entahlah yang pasti bukan itu.
bukan pada “tingkatan” yang tidak ingin dilakukan tapi lebih pada menghindari menjadi pada umumnya. bukan salah menjadi pada umumnya, lebih pada bukan saya. bukan untuk menghasut, sekedar pembenaran diri, menguatkan, mengingatkan akan pilihan yang telah diambil, akan konsekwensi yang menyertai
.. bertahan
Ditulis dalam kata
•Selasa, 21 November 2006 •
Tinggalkan sebuah Komentar
setelah beberapa lama diisi dengan sebentuk keyakinan.. kemudian diruntuhkannya.. dan dari puing-puing kehancurannya dibangun kembali sebuah keyakinan baru.. kemudian diruntuhkan kembali.. konstruksi-dekonstruksi istilahnya.. setelah beberapa saat ini berlangsung kepala ini terasa berdenyut keras.. setiap kata yang coba dimasukkan dimuntahkannya kembali.. meski pengumpulan tugas diambang mata, tapi kepala enggan bekerja sama.. bahkan untuk menyentuh “Moral Philosopy”nya Hepburn terasa berat sekali.. kalau pak Herry Priyono bilang anxiety.. jalan pintasnya tidak ada.. ini normal dan bagian dari proses.. hanya stamina yang bisa membawa ke tahapan berikutnya..
pertanyaannya apakah saya punya stamina? lebih mundur pertanyaan akan berbunyi apakah saya ingin ke tahapan berikut? lebih mundur lagi apa proses ini akan membawa kepada pemahaman yang lebih baik? jadi teringat tulisan saya sebelumnya.. terlalu naif rasanya mengklaim / menempatkan sesuatu pada posisi TER.. TER hanya akan obyektif dari metode penilainya saja..
duh agaknya, sementara waktu ini, sampai waktu yang belum dipastikan, menanti pengumuman lebih lanjut, kepala ini butuh istirahat, lingkaran merah dengan garis putih horizontal buat filsafat.. ( — )
PS: paragraf terakhir akhirnya hanya jadi harapan karena malam ini ada kelas martikulasi..
Ditulis dalam kata
Komentar Terakhir