ketika denyut itu tidak lagi ada / seketika itu semua membisu / semua menghilang / semua berhenti / semua senyap / semua gelap /
ketika denyut itu tidak lagi ada / makna direnggut dari kami / dan tanpanya kami hanyalah seonggok sampah

ketika denyut itu tidak lagi ada / seketika itu semua membisu / semua menghilang / semua berhenti / semua senyap / semua gelap /
ketika denyut itu tidak lagi ada / makna direnggut dari kami / dan tanpanya kami hanyalah seonggok sampah
baru saja selesai memindahkan semua blog yang tadinya parkir di friendster ke wordpress. hmm alasan? karena sulit mengupdate di sana, tampilan visual yang agak membosankan, sekalian juga coba-coba wordpress (yang katanya ‘keren’).
disini tidak lagi pusara kata, disini kata dan gambar dijadikan satu,
opini terhadap dunia, mencoba melihat yang terlewatkan, mencoba melihat dari beberapa sudut, juga dengar dan rasa. yah pokoknya begitulah.
selamat berkelana, jangan tersesat, kalo tidak nikmat jangan lanjut
ada saat merindu menjadi pada umumnya, menjadi bagian dari massa, sebuah komponen dalam mekanika sistem, tik tok tik tok, derapnya teratur, berirama monoton, nyaman dalam rutinitasnya.
lulus sekolah, bekerja, mencari pasangan, berkeluarga, mendidik anak, dan menanti kematian.. saat satu “tingkatan” dicapai, pertanyaan pada umumnya menanti, kapan lulus?, sudah bekerja? kapan menikah? sudah “isi” blom?.. –kurang tepat mungkin tapi kurang lebih–.. semua terasa “pada umumnya”.. bergerak pada lingkaran yang menyempit, tak dipungkiri banyak yang memaknainya luar biasa.
rasanya kini luar biasa itu tidak terasa, kini menjadi pada umumnya bukan lah
aku yang aku bayangkan.. lalu apa yang kau bayangkan. entahlah yang pasti bukan itu.
bukan pada “tingkatan” yang tidak ingin dilakukan tapi lebih pada menghindari menjadi pada umumnya. bukan salah menjadi pada umumnya, lebih pada bukan saya. bukan untuk menghasut, sekedar pembenaran diri, menguatkan, mengingatkan akan pilihan yang telah diambil, akan konsekwensi yang menyertai
.. bertahan
setelah beberapa lama diisi dengan sebentuk keyakinan.. kemudian diruntuhkannya.. dan dari puing-puing kehancurannya dibangun kembali sebuah keyakinan baru.. kemudian diruntuhkan kembali.. konstruksi-dekonstruksi istilahnya.. setelah beberapa saat ini berlangsung kepala ini terasa berdenyut keras.. setiap kata yang coba dimasukkan dimuntahkannya kembali.. meski pengumpulan tugas diambang mata, tapi kepala enggan bekerja sama.. bahkan untuk menyentuh “Moral Philosopy”nya Hepburn terasa berat sekali.. kalau pak Herry Priyono bilang anxiety.. jalan pintasnya tidak ada.. ini normal dan bagian dari proses.. hanya stamina yang bisa membawa ke tahapan berikutnya..
pertanyaannya apakah saya punya stamina? lebih mundur pertanyaan akan berbunyi apakah saya ingin ke tahapan berikut? lebih mundur lagi apa proses ini akan membawa kepada pemahaman yang lebih baik? jadi teringat tulisan saya sebelumnya.. terlalu naif rasanya mengklaim / menempatkan sesuatu pada posisi TER.. TER hanya akan obyektif dari metode penilainya saja..
duh agaknya, sementara waktu ini, sampai waktu yang belum dipastikan, menanti pengumuman lebih lanjut, kepala ini butuh istirahat, lingkaran merah dengan garis putih horizontal buat filsafat.. ( — )
PS: paragraf terakhir akhirnya hanya jadi harapan karena malam ini ada kelas martikulasi..
bilakah suatu masa/ruang, saat manusia lebih “manusiawi”, saat semua tindakan tidak diasosiasikan dengan untung dan buntung, saat kebutuhan akal lebih utama dibanding kebutuhan perut, saat EGO tidak tertulis dikepala dengan huruf tebal dan kapital, utopiaku
Awalnya semua indah, serasa berada dalam taman firdaus.. semuanya berwarna-warni, semuanya merdu, semuanya harum.. entah kapan keindahan itu tak lagi memukau.. keindahan itu tidak lagi hingar bingar dan menyilaukan.. keindahan itu menjadi sederhana.. sesederhana helaan nafas dan detak jantung atau terbit tenggelamnya mentari.. keindahan itu tidak lagi memabukkan bila direguk terlalu banyak.. justru sebaliknya ia jadi bagian dari denyut, bagian dari nafas dan bagian dari hari.. //indahnya sederhana//
wuiiiiiih bulannya bulat dan merah.. awannya kelabu.. serammm.. keren.. syangnya gak bawa kamera.. duhhhh
dikiranya sudah jadi yang paling.. dikiranya sudah tau semua sudut ruang.. ternyata hanya paling dalam tempurung.. ternyata hanya tahu tentang tempurung..
katak adalah diri ?.. tempurung adalah pikiran ?.. batas diri adalah pikiran ?
“Mikhail Gorbachev: If what you have done yesterday still looks big to you, you have not done much today.” .. duh…
mengamati, menganalisa, mencari suatu bentuk pembenaran secara logika.. masing-masing individu memiliki caranya masing-masing untuk menenangkan diri.. dan caraku adalah yang tersebut diatas.. Rationalization istilahnya Sigmund Freud..
dan menganalisa, mengamati melalui pantulan kaca bukanlah hal yang mudah.. ada kalanya keinginan dan harapan itu bgitu besarnya shingga yang terjadi adalah sebuah bentuk pembenaran.. pembenaran secara logika.. istilah fisikanya adalah pembiasan..
ktika mimpi sudah meracuni keinginan.. ketika ia telah menembus batas maya dan terserap dalam keseharian.. ktika ia menjelma menjadi gelora dan berharap tidak padam diterpa kenyataan.. idealis katanya
rusaknya lagi ketika asa itu tidaklah menetap dalam suatu ruang tersembunyi di dalam rumitnya kepala.. rusaknya lagi ktika ia berusaha menerobos keluar, menggedor-gedor dada.. rusaknya lagi ketika realitaspun tak mampu mengekang dan mengendalikannya.. sehingga ia menjadi liar.. menjadi impulsif
lalu kacamata realitas dikenakan.. dipandangi dalam2 dari ujung kaki sampai ujung rambut.. dan meledaklah tawa itu.. keras sekeras-kerasnya.. berguling-guling memukul-mukul meja.. koq ada yah orang bodoh sperti itu..
makan tuh idealisme.. salahmu jadi impulsif.. smoga mimpimu bisa nafkahimu.. isi perutmu dengan egomu.. kere kere kere.. hahahaha
)
hmm sebenarnya bukan keputusan yang kusesali tapi kebimbangan akan kmudian..
huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh dah jauh lebih lega.. tengkiu efye..
Komentar Terakhir